Bahasa Kaumnya: Impresi Beberapa Mahasiswa Jepang Tentang Islam

Saat ini saya sedang mengikuti Program beasiswa Pemerintah Jepang  Japanese Studies selama 1 tahun di Jepang, tepatnya di Universitas Pendidikan Nara yang terletak di pusat kota Nara. Semester ini saya mengambil mata kuliah gendai nihonron  (Diskusi Jepang terkini) yang pesertanya terdiri atas mahasiswa Jepang itu sendiri dan mahasiswa asing.

Kuliah tersebut banyak membahas tentang budaya dan gaya hidup masyarakat jepang saat ini. Dosen memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang ingin mempresentasikan ide mereka yang berhubungan dengan mata kuliah ini untuk didiskusikan bersama. Oleh karena itu, kuliahnya lebih banyak dalam bentuk diskusi dan persentasi. Bagi yang berminat presentasi diharuskan mengisi formulir yang dibagikan oleh dosen.

Walaupun saat itu belum menemukan bahan presentasi yang baik, saya memberanikan diri untuk mengisi form presentasi tersebut. Akhirnya dosen memberi masukan tema tentang “Gaya hidup Orang Islam yang tinggal di Jepang”, karena tema ini memiliki keterkaitan erat salah satu isi materi kuliah terutama tentang “Kebudayaan makan orang Jepang”. Karena ini menarik, saya pun menyetujui usulan dosen tersebut.

Sebelumnya saya pernah memberikan presentasi untuk anak-anak SMA dengan tema yang sama, yaitu “Gaya Hidup Orang Islam”, akan tetapi ternyata mereka terlihat kurang bersemangat. Saya menduga ini bukanlah karena temanya yang kurang menarik, tetapi lebih kepada tidak terjadinya komunikasi dua arah saat itu. Rupanya salah satu penyebabnya adalah bahan presentasi yang saya bagikan terlalu memuat banyak tulisan daripada gambar.

Untuk kali ini, saya ingin mengemas presentasi tersebut agar lebih menarik dan mudah dipahami. Alhamdulilah bahan persentasi yang baik saya dapat dari buku  isuramu no koto ga manga de san jikan de masutaa dekiru hon (buku yang bisa mempelajari tentang agama islam dalam 3 jam). Setiap penjelasan dalam buku tersebut selalu divisualisasikan dalam bentuk komik (manga).


 

Akhirnya pada hari-H untuk presentasi, saya membagikan lembaran pada teman-teman berupa dialog percakapan dalam bentuk manga. Kemudian teman-teman saya minta untuk membacakan dialog pada lembaran tersebut. Setelah itu barulah saya memberikan penjelasan untuk melengkapi supaya lebih menarik dan berbobot.

Bahan-bahan yang saya persentasikan, mengenai :

·   Isuramu no sekai no hirogari (di  negara manapun pasti ada orang beragama Islam yang bermukim walaupun sedikit)

·   Qur`an no naiyou (gaya hidup apa saja yang dianjurkan agama Islam yang tercantum dalam Al Qur`an)

·    Danjiki to danjiki ake no matsuri (shaum dan idul fitri)

·     Musurimu no yoku tsukau  (satu sisi kemiripan dengan budaya Jepang. Sebelum makan: itadakimasu-Bismillah, setelah makan: gochisousama-Alhamdulilah)

·     Musurimu no shokutaku (budaya makan dengan menggunakan tangan)

·     Musurimu no shokuseikatsu (tentang khamar, daging babi)

Saat presentasi berlangsung dosen saya kadang-kadang memberi tambahan beberapa poin yang berkaitan. Misalnya beliau pernah menambahkan bagi yang sedang hamil dan melakukan perjalanan diperbolehkan tidak berpuasa. Berpuasa dalam segi kesehatan pun ada bagusnya. Jika bertanya kepada orang Islam kapan menikah jawaban mereka adalah tidak tau kapan, tapi Islam menganjurkan untuk menikah (segera jika telah mampu). Saya dan dosen selalu menambahkan beberapa poin yang memberi kesan pada mereka bahwa aturan Islam tidak sekaku yang mereka bayangkan selama ini.   

Setiap kali satu materi selesai dibahas, dosen selalu membagikan kertas kepada mahasiswa untuk diisi kesan yang mereka peroleh dari setiap materi dan pesan berkenaan dengan hal-hal yang ingin ketahui lebih detail. Dua minggu kemudian dosen membagikan rangkuman dari kesan dan pesan peserta juga pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Selain kesan mengenai materi pokok yang dibahas tetapi ada pula yang meyelipkan kesan terhadap persentasi tentang “Gaya Hidup Orang Islam”. Isi selipan kesan tersebut antara lain:

·    Dalam agama Islam makanan benar-benar dipikirkan.

·    Rasa terima kasih bisa makan pun diucapkan

·     Bisa lebih banyak mengetahui tentang puasa                 

·     Beruntung bisa mengetahui tentang kebiasaaan dalam agama Islam tetapi saya ingin tahu lebih banyak untuk apa hal-hal tersebut ditetapkan

·     Bagi yang sakit, dan yang sedang hamil tidak puasa pun tidak apa-apa, tapi saat bulan puasa bagi orang Islam yang berprofesi atlet olahraga bagaimana?                       

·     Presentasi mengenai agama Islam menarik, ingin mengetahui semuanya lebih dalam.              

·     Dari presentasi tersebut, menjadi tahu lebih rinci ttg agama Islam seperti sholat 5 kali, puasa dan sebagainya.            

·     Menurut saya pemeluk agama Islam itu taat-taat.

·     Setelah mendengar penjelasan secara rinci, pertanyaan mengenai gaya hidup orang Islam terhadap makanan terjawab.  

Alhamdulillah dari presentasi tersebut, terdapat banyak hikmah yang bisa kita ambil misalnya pendekatan bahasa dan budaya sangat penting untuk menunjang kelancaran dakwah di negeri sakura ini. Dari kesan yang mereka tulis, terlihat ada keinginan untuk mengetahui tentang Islam lebih dalam yang mungkin selama ini sulit bagi mereka untuk mendapatkannya karena kendala bahasa dan kesempatan. 

Seperti dalam surat Q.S Ibrahim:4: Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa  yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang  Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan yang  Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Pendekatan budaya pun pernah dicontohkan oleh Sunan Kalijaga yang menggunakan wayang sebagai media dakwahnya, karena beliau menganggap melalui wayang ini pesan dakwah akan mudah tersampaikan.

Animasi (anime) dan manga adalah beberapa budaya jepang yang masih ada sampai saat ini. Kemudian mulai banyak fasilitas dakwah misalnya buku Islam dalam bahasa Jepang yang bermanfaat untuk mendukung kelancaran dakwah di negeri ini. Tugas berikutnya adalah bagaimana kita mau dan mampu memanfaatkan fasilitas tersebut agar manisnya hidayah ini, lezatnya iman ini bisa dirasakan oleh penduduk matahari terbit. Semoga segera… (*)

Ainin Shofiawati di Nara

 

Comments are closed.


Parse error: syntax error, unexpected '&', expecting ']' in /home/kmmiiorg/public_html/wp-content/themes/atahualpa/footer.php on line 4