‘Dokter Bahasa’ | Arif Bramantoro

mas bramWe do not inherit civilization from our ancestors, we borrow it from our children” merupakan kalimat bijak yang sempat kami catat dalam wawancara kami dengan sosok yang pernah diamanahi sebagai Ketua KMII Kansai 2011-2012 serta Wakil Ketua I PPI Jepang 2008-2010. Sosok tersebut bernama Arif Bramantoro, atau biasa kami kenal dengan panggilan Pak/Mas Bram.

Dokter” dari ITB

Bram kecil lahir dari keluarga akademisi yang pernah bercita-cita menjadi dokter. Cita-cita ini, besar dipengaruhi oleh sang ayahanda yang berharap putra-putrinya dapat menggratiskan biaya pengobatan bagi yang tidak mampu. Selain bercita-cita sebagai dokter, Bram kecil pernah mengungkapkan keinginannya untuk bersekolah ke Jepang, setelah terinspirasi dari mahasiswa yang pernah kost di rumahnya yang berhasil melanjutkan studi ke negeri matahari terbit. Perjalanan hidup memang tidak dapat diduga, alur kehidupan rupanya tidak membawa beliau menuju profesi dokter. Sebaliknya, lulusan Teknik Informatika ITB ini, malah bergerak menyusuri pustaka kehidupan dalam bidang teknologi informasi. Berbekal doa sang ayahanda yang berharap keturunannya dapat menyelesaikan jenjang yang lebih tinggi (S3), lulusan magister Information Technology di Monash University akhirnya menjemput impian ke Jepangnya dengan melamar beasiswa Monbukagakusho.

Jepang sang Negeri di Masa Kecil

Cerita masa kecil tentang mahasiswa kost di rumahnya yang memenuhi ruangan kost dengan tulisan hiragana dan katakana, sepertinya memudahkan proses wawancara beasiswa Monbukagakusho, yang pada akhirnya mengantarkan beliau menginjakkan kaki di negeri Jepang. Meskipun, negeri impian terkadang tak selamanya indah, cultural shock pernah menjadi bagian hidup beliau di awal kehidupannya di Jepang. Walaupun jalan keluar akhirnya Allah titipkan melalui komunitas yang ia temui, yang kemudian perlahan-lahan membantu beliau mengurangi rasa keterkejutan budaya ini.

Sesampai di Jepang, penyuka olahraga bulu tangkis ini, awalnya berpikir untuk berkontribusi pada bidang teknologi semantic web service untuk e-Government, karena banyaknya e-Government di negeri tercinta yang belum terintegrasi dengan baik. Akan tetapi sang Prof. rupanya lebih menginginkan beliau bekerja pada project yang dikenal sebagai the Language Grid project. Proyek ini menggabungkan serta berbagi data dan aplikasi di dunia yang terkait dengan bahasa manusia dalam satu platform. Kemudian, dengan mengkombinasikan yang sudah ada, akan diperoleh data dan aplikasi yang baru. Total terdapat tiga topik yang berkaitan dengan project ini. Topik pertama adalah Integrated Architecture untuk proyek di Kyoto dan Jerman. Topik kedua adalah User-Centered Quality of Service, sementara topik ketiga merupakan topik yang diusulkannya kepada sang pembimbing yang berjudul Cultural Language Service Optimized in Multi Objective Constraints.

Selain berhasil mempublikasikan enam buah publikasi selama studi doktornya, Ketua I Himpunan Mahasiswa Informatika ITB (1999-2000) ini, juga berhasil mendapatkan GCOE Young Leadership Award dari Kyoto University setelah bersaing dengan beberapa mahasiswa S3 se-fakultas. Penghargaan ini memberi beliau dana riset sekitar 1,2 juta yen, yang kemudian ia gunakan untuk membeli peralatan-peralatan riset, serta melakukan perjalanan riset ke Indonesia dan Malaysia selama satu setengah bulan. Meski dengan prestasi dan publikasi seperti ini, dalam “perbincangan” beliau tetap saja merendah bahwa kelulusannya lebih karena jumlah anaknya yang banyak, sehingga sang pembimbing khawatir jika ia tidak lulus tepat waktu.

Islam dan Kehidupan

Arek suroboyo yang pernah diamanahi menjadi President Kyoto Muslim Association 2008-2009, terlihat sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya.  Ketika berada di masa studi, beliau bertugas mengantar dan menjemput anak ke sekolah dengan menggunakan bis. Waktu perjalanan yang panjang ini, beliau manfaatkan untuk memberi nasihat-nasihat kepada anaknya, melakukan tadabbur alam, hingga dzikir al-matsurot bersama. Pun ketika telah bekerja di Jepang, beliau tetap menyempatkan diri untuk menemani anak-anak, jika tidak bisa di waktu pagi sebelum bekerja, beliau berusaha pulang sebelum anak-anaknya tidur. Berbicara tentang pendidikan anak di Jepang, beliau berkata bahwa sangat terbantu dengan peran istri yang full-timer, meskipun proses mendidik aqidah anak di Jepang merupakan hal yang paling berat. Pendidikan aqidah ini harus dimulai dengan konsep dasar yang paling sederhana, dan harus dimatangkan terlebih dahulu agar tidak berbenturan dengan lingkungan sekitar. Sehingga pendidikan anak usia di bawah tujuh tahun ala Rasulullah yang seharusnya permisif-dialogis, harus dimodifikasi sedikit menjadi permisif-dialogis-koersif karena tuntutan lingkungan. Meskipun lingkungan budaya Jepang sangat membantu beliau untuk mendidik akhlak anak-anak.

Islam bagi beliau adalah jalan hidup yang mencakup pula tatanan dalam melaksanakan  riset dan pendidikan anak. Di dalam riset, Islam mengajarkan professional atau ihsan, dimana meski tidak diawasi oleh sensei ataupun atasan, akan tetapi ada Allah SWT yang mengawasi. Sehingga setiap hari beliau berusaha menargetkan ada hasil dari riset yang ia lakukan. Selain itu, untuk quality control pekerjaan-pekerjaannya, beliau menyukai perkataan Umar bin Khattab r.a yang berbunyi:“Hisablah kamu sebelum kamu dihisab”.

Dalam hal mendidik anak, beliau meyakini bahwa mendidik anak merupakan proses membangun peradaban, sehingga harus dilakukan secara seksama dan sunguh-sungguh. Karena secara hakiki yang mendidik anak adalah Allah SWT, sedangkan kita sendiri tidak akan mampu mencetak/membuat anak meski hanya satu orang saja, maka tugas kita sesungguhnya hanyalah memakai atau mengimplementasikan saja tatanan yang telah disediakan Islam dalam mendidik anak. Oleh karena itu, beliau berusaha menggali sebanyak mungkin nilai-nilai yang ada dalam Al-Quran dan Hadist setiap saat. Karena dari dua sumber inilah beliau menyakini segala permasalahan baik dalam riset maupun mendidik anak sudah terdapat jawabannya.

Masyarakat Jepang dan Islam

Mengenang interaksi dengan warga Jepang, dosen Imam University di Riyadh KSA ini, sempat menceritakan pengalaman menarik bersama sensei-nya, yang acap kali menanyakan banyak hal tentang Islam. Bahkan pernah pada suatu kesempatan, setelah berdiskusi panjang tentang Islam, Sensei menanyakan apakah beliau dapat menolongnya untuk mengeluarkan sensei dari neraka kalau beliau sudah berada di surga, dan beliau jawab I’m sorry. Jawaban ini rupanya diceritakan sensei-nya kepada banyak orang sambil tertawa-tawa. Hal ini pula yang terkadang membuat beliau sedih meninggalkan Jepang, karena kehilangan kesempatan untuk berdakwah ke masyarakat Jepang. Anak-anak beliau anggap sebagai sarana yang baik untuk mengenalkan Islam. Karena melalui media anak-anak ini, sering kali kita tidak perlu memperkenalkan Islam secara langsung kepada orang Jepang. Sebagai contohnya, ketika melihat anak-anak beliau mengenakan hijab yang kawai, masyarakat jepang terkadang jadi banyak bertanya tentang Islam, yang dapat menjadi pintu masuk pengenalan Islam.

Meski banyak belajar dalam hal manajemen waktu, bapak 4 anak ini rupanya pernah kesulitan mengikuti dengan ritme kerja masyarakat Jepang. Beliau membutuhkan waktu beberapa tahun untuk bisa mengikuti dan menikmati ritme kerja masyarakat Jepang. Selain itu kecenderungan masyarakat Jepang yang tidak bisa to-the-point, membuatnya sedikit sulit memahami apa yang diinginkan orang Jepang. Meski hal inilah yang kemudian membuat beliau lebih memahami ayat Al-Quran yang menjelaskan maksud Allah SWT menciptakan manusia berbangsa-bangsa, yaitu “lita’arafu” (agar saling mengenal).

Diakhir perbincangan beliau berharap teman-teman di Jepang tetap terlibat di kegiatan-kegiatan komunitas Indonesia, terutama kegiatan ke-Islaman. Karena dengan kegiatan-kegiatan ke-Islaman inilah yang menjadikan kita tidak seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW, yaitu domba yang terlepas dari kawanannya yang dimakan serigala.

Biodata

Nama Lengkap: Arif Bramantoro

Tempat, Tanggal Lahir: Surabaya, 11-12-1978

Status: Menikah

Nama Istri/Suami: Rokhmah Kusumastuti

Nama Anak: Faiza Zahidah, Hamdan Mushoddiq, Nadhif Abdurrahman, Maryam Haniyah

Riwayat Pendidikan :

- S3 Informatics di Kyoto University – Jepang, 2011

- S2 Information Technology di Monash University – Australia, 2005

- S1 Teknik Informatika di Institut Teknologi Bandung – Indonesia, 2001

Penghargaan: GCOE Young Leadership 2010, Graduate School of Informatics, Kyoto University – Japan

Riwayat Organisasi:

- Ketua KMII Kansai 2011-2012

- Wakil Ketua I PPI Jepang 2008-2010

- President Kyoto Muslim Association 2008-2009

- Ketua Islam-Kyoto (KMI Kyoto) 2007-2008

- Dewan Syoro Youth Indonesian Muslim Student in Australia (YIMSA) 2004-2005

- Staf bidang dakwah Indonesian Muslim Community in Victoria (IMCV) 2004-2005

- Senator Keluarga Mahasiswa ITB (1999-2001)

- Ketua I Himpunan Mahasiswa Informatika ITB (1999-2000)

Kata-kata Bijak Favorit:

“We do not inherit civilization from our ancestors, we borrow it from our children” (modified from many sources).

“Hisablah kamu sebelum kamu dihisab” (Umar bin Khattab r.a.).

 

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


Parse error: syntax error, unexpected '&', expecting ']' in /home/kmmiiorg/public_html/wp-content/themes/atahualpa/footer.php on line 4