Yus Dwi Handoko

“Biarkanlah kehidupan mengalir layaknya air yang mengalir melalui saluran air yang telah kita bangun”

Kehidupan yang penuh kejutan merupakan kesan yang kami dapatkan ketika berbincang dengan sosok muslim kansai pada edisi kedua ini. Kejutan ini memang bukan sembarang kejutan atau lompatan kehidupan yang hadir secara tiba-tiba, akan tetapi kejutan kehidupan yang layak disebut sebagai buah dari proses panjang dalam rangka penghambaan. Sehingga quote diatas sepertinya cocok kami pilihkan untuk menggambarkan sosok Yus Dwi Handoko, yang surat elektroniknya selalu hadir pada awal bulan untuk menginformasikan kegiatan pekanan Masjid Ibaraki-Osaka.

Pada awal perbicangan, Ayah dua putri ini mengisahkan tidak berencana untuk melanjutkan studi ke Teknik Elektro ITB apalagi sampai ke Osaka University. Bahkan pada masa kecil, beliau bercita-cita menjadi pilot, karena merasa pekerjaan tersebut sangat menantang. Akan tetapi penggunaan kacamata pada usia remaja, memaksa laki-laki kelahiran Jakarta ini untuk mengubur mimpinya menjadi pilot. Siswa teladan SMA se-DKI ini terpikir untuk melanjutkan studi ke Teknik Elektro ITB hanya sekitar 2 minggu sebelum Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), sesaat setelah pengumuman Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) yang gagal membawa beliau masuk universitas yang dituju. Dengan waktu persiapan yang sangat sempit (hanya sekitar 2 minggu), rupanya tidak menghentikan lompatan kehidupannya untuk sampai ke Teknik Elektro ITB, yang pada masanya merupakan salah satu jurusan yang paling sulit ditembus melalui UMPTN, karena ketatnya persaingan.

Aliran air kehidupan seolah-olah membawa pengelanaan mantan ketua Osaka Moslem Association ini ke negeri yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Interaksi dengan lulusan Jepang dan konsumen perusahaan Jepang selama melaksanakan Kerja Praktek (KP) di Metrodata Indonesia, menumbuhkan ketertarikannya untuk menjejak kaki di bumi sakura. Berawal dari tempat kerja praktek yang diperoleh secara tidak sengaja, setelah membantu teman mengklaim warranty service sebuah harddisk, menarik putaran kehidupan beliau untuk melompat lebih jauh menuju daerah yang tidak pernah dimimpikan sebelumnya. Tahun 2001, mahasiswa ITB yang lulus dalam 7 semester ini akhirnya berkesempatan merasakan sejuk dan beningnya sungai-sungai di bumi sakura.

 Waktu Kerja= Kerja!!

Setelah menyelesaikan program pasca sarjana di Osaka University, pemilik salah satu paten di bidang motion estimation untuk video processing ini memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hidupnya dengan bekerja di Daiwabo Information System, Jepang. Laki-laki yang pernah bekerja di perusahaan multinasional di Indonesia ini, menemukan pola kerja yang berbeda ketika bekerja di perusahaan Jepang. Penghargaan terhadap waktu dan penggunaan waktu kerja khusus untuk kerja (No fb, No twitter, dsb.) merupakan pola kerja yang sangat terasa di perusahaan ini. Selain itu, ikatan antara karyawan dan perusahaan terbangun sangat erat. Sebagai contoh, ketika mengalami krisis, perusahaan Jepang umumnya memilih pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai kemungkinan terakhir. Langkah pertama yang biasanya diambil adalah melakukan pemangkasan gaji direktur, melakukan efisiensi perusahaan hingga mengurangi kerja lembur. Bahkan di beberapa perusahaan, untuk menghindari PHK, perusahaan menggunakan skema work share dengan menurunkan jumlah jam kerja. Dengan demikian, meskipun gaji menurun karena berkurangnya jam kerja, jumlah karyawan tetap bisa dijaga sehingga tidak perlu melakukan PHK. Hal lain yang beliau catat adalah perhatian serius perusahaan kepada jaminan kesehatan karyawan, contohnya karyawan yang mengalami sakit parah, umumnya ditunggu terlebih dulu hingga kesehatannya kembali normal, tidak serta merta langsung dipecat karena sakit yang dideritanya. Ikatan ini yang menjadi salah satu faktor sedikitnya karyawan yang berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain, seperti yang umum terjadi di Indonesia.

Di balik berbagai fasilitas dan kemudahan manakala bekerja di perusahaan Jepang, mantan ketua KMII Kansai ini tetap mengalami tantangan dalam hal ibadah. Hidup di negara dengan kondisi muslim sebagai minoritas, memaksanya untuk senantiasa menegoisasi terlebih dahulu praktek ibadah sebagai hamba Allah. Beliau mengisahkan pengalaman menarik ketika meminta ijin untuk sholat kepada perusahaan. Setelah melewati beberapa tahap dalam proses rekrutmen perusahaan, akhirnya ia sampai pada tahap wawancara akhir yang pewawancaranya adalah direktur perusahaan itu sendiri. Ketika wawancara berlangsung, dengan taktisnya beliau meminta ijin untuk melakukan sholat saat jam kerja, dan Alhamdulillah atas ijin Allah SWT, laki-laki yang sempat menjadi pengasuh rubrik konsultasi di beberapa majalah komputer nasional berhasil mendapatkan ijin tersebut. Ijin Allah SWT melalui direktur inilah yang pada akhirnya menjadi sarana kemudahan bagi beliau untuk meminta ijin melakukan ibadah yang lain, sebagai pemenuhan naluri alamiah manusia untuk senantiasa menyembah kepada sang Maha Pencipta. Pemberian ijin langsung dari pimpinan level atas ini memiliki arti yang sangat penting, mengingat budaya masyarakat Jepang yang cenderung sangat menghormati keputusan atasan. Bahkan ketika waktu sholat tiba, meski ketika rapat berlangsung, beliau dapat dengan serta merta meninggalkan rapat untuk mengkhususkan waktu sejenak untuk menghamba kepada Yang Maha Penyayang. Sang manajer pun terkadang berusaha mencari tahu secara mandiri sesuatu yang terkait dengan Islam. Sehingga pada satu kesempatan, ketika ayah dari Naura ini sholat, sang manajer secara spontan menjelaskan kepada koleganya yang lain tentang apa yang sedang beliau kerjakan.

Anak sang investasi yang tidak boleh rugi.

Kita harus sadar bahwa kita ini berbeda, kita muslim yang memiliki aturan sendiri” merupakan kalimat pertama yang terluncur manakala ditanya tentang pola pendidikan anak. Beliau sejak dini berusaha menanamkan kepada anak-anaknya bahwa mereka merupakan manusia muslim yang mengikuti jalan menuju keselamatan, sehingga kehidupan mereka tidak harus serupa dengan apa yang ada di dalam lingkungan mereka. Oleh karena itu secara bertahap ia berusaha menanamkan aturan keselamatan ini kepada anak-anaknya, seperti membiasakan Raihanna dan Naura untuk menggunakan jilbab sedari kecil. Hal ini sepertinya membuahkan hasil yang manis, beliau menceritakan pada usia 3 atau 4 tahun kedua putrinya seperti sudah terbiasa mencari jilbab manakala akan bepergian keluar rumah. Pendidikan sholat pun beliau lakukan secara bertahap, pada umur 3 tahun ia berusaha mengenalkan sholat dan gerakannya. Beranjak ke umur 4-5 tahun secara rutin anak-anak diajarkan untuk melakukan sholat sehingga mereka dapat sholat secara rutin 3-4 dalam sehari, terutama di waktu dhuzur, agar terbiasa untuk melaksanakan sholat dhuzur di sekolah. Kemudian secara bertahap membiasakan kewajiban sholat kepada anak-anaknya, mulai dari jumlah sholatnya (wajib sholat 5 waktu meski terlambat), kemudian waktu sholatnya, yang diikuti dengan wajibnya melakukan wudhu, hingga anak-anak terbiasa melakukan sholat secara mandiri. Proses bertahap ini beliau yakini dapat menghilangkan kesan sulitnya melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

Layaknya permasalahan yang dialami oleh keluarga muslim lainnya, benturan akidah juga beliau alami ketika mendidik anak-anaknya. Oleh karena itu, sejak dini konsep akidah Islam secara sederhana berusaha ia kenalkan kepada anak-anaknya. Mengenalkan Allah SWT sebagai Sang Pencipta dan tempat meminta, sekaligus memberikan pemahaman anak-anak mengenai kemusyrikan dalam penyembahan kepada batu ataupun dewa, menjadi salah satu cara untuk menjaga akidah anak-anak. Selain itu, secara rutin beliau menyaring acara-acara di sekolah yang tidak bisa diikuti oleh anaknya, sembari secara berkala menemui wali kelas anaknya untuk berkomunikasi terkait ibadah dan hal-hal lainnya. Oleh karenanya, beliau menyebut proses pendidikan anak merupakan bagian tersulit dalam kehidupannya di Jepang. Di negara ini, orang tua dituntut untuk dapat berperan sebagai guru ngaji, guru akidah, guru agama dan peran-peran penting lainnya. Beliau berharap, peran-peran ini menjadi tabungan yang baik ketika menemui Sang Khalik. Karena beliau menyakini bahwa “anak-anak itu merupakan investasi kita untuk masa datang, investasi yang tidak boleh rugi dan tidak bisa diulang” sehingga harus serius dalam proses ini, dan jangan lupa untuk “dapatkan hati anak sebelum mendidiknya”.

Selama tinggal dan hidup di Jepang mungkin lebih banyak kesulitannya, akan tetapi kita harus yakin bahwa di balik kesulitan tersebut pasti tersimpan berbagai kemudahan dan hikmah. Insha Allah jika semata-mata untuk Allah permasalahan-permasalahan spesifik tersebut Allah akan berikan solusinya” merupakan beberapa pesan pamungkas yang kami tangkap dari perbincangan penuh hikmah kali ini.

Nama Lengkap:Yus Dwi Handoko

Tempat, Tanggal Lahir:Jakarta, 6 Oktober 1977

Status: Menikah

Nama Istri:Dian Bulan Sari

Nama Anak:Raihana Aisyah Zahra, Fatimah Naura Izzati

Riwayat Pendidikan :SMP 111, SMA 78, S1 Teknik Elektro ITB, S2 Sistem Informasi Osaka University

Riwayat Pekerjaan: Accenture (Jakarta), Daiwabo Information System (Osaka), Penulis dan pengasuh rubrik konsultasi di Majalah Infokomputer, CHIP dan Mikrodata (selama 1992-2001)

Sertifikasi : Cisco Certified Network Professional (CCNP), Cisco Certified Design Associate (CCDA), Cisco Certified Network Associate (CCNA), Microsoft Certified IT Professional (MCITP) – Database Administrator

Penghargaan: Siswa Teladan SMA DKI Jakarta, Juara 2 Kompetisi Matematika DKI, Juara 2 Kompetisi Kimia DKI

Riwayat Organisasi:Ketua Majelis Perwakilan Kelas SMA 78, Ketua Divisi Komputer Himpunan Mahasiswa Elektro ITB, Ketua KMII Kansai, Ketua Osaka Moslem Association, Ketua Komite Masjid Ibaraki Osaka

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


Parse error: syntax error, unexpected '&', expecting ']' in /home/kmmiiorg/public_html/wp-content/themes/atahualpa/footer.php on line 4