Bila Bahagia Berganti Kecewa

Suatu hari di tahun 1993, cuaca di Tasikmalaya sangat cerah. Hari itu, kebahagiaan terpancar pada raut wajah ibuku tatkala menerima rapor SD kepunyaan Gilang. Dia adalah adikku yang paling kecil dari sepuluh bersaudara. Gilang dinyatakan lulus SD dengan nilai Ebtanas terbaik se-Kecamatan, rata-ratanya sembilan koma.

“Bu Hajjah, Ibu beruntung punya anak seperti Gilang, dia pintar sekali” ujar Ibu Tini (bukan nama sebenarnya) salah seorang guru SD, memberikan pujian pada ibuku sesaat setelah acara pembagian rapor usai.

“Alhamdulillah Bu, ini semua tentunya berkat kebaikan guru-guru di sini yang telah mendidik Gilang. Kami sangat berterimakasih sekali” balas ibuku penuh syukur dan rendah hati.

“Iya, saya perhatikan anak Ibu pintar-pintar. Dari sepuluh orang anak Ibu yang saya ajar, mungkin yang agak bodoh adalah Acep” ujar Ibu guru Tini penuh kejujuran.
“Tidak ada anak Ibu yang pernah dapat nilai lima di rapornya, kecuali Acep” tambah bu Tini memberikan fakta.

Ibu Tini adalah guru SD yang sama sejak kakaku paling besar sampai adikku paling bontot. Sehingga beliau bisa membandingkan prestasi semua saudaraku. Sedangkan yang dimaksud Acep adalah aku. Dulu ketika SD, semua guru dan teman memanggilku Acep.

Demi mendengar kalimat terakhir yang diucapkan bu guru Tini, tiba-tiba wajah ibuku memerah, dia memendam kecewa atas ucapan bu guru tadi, meskipun itu benar adanya namun tetap menyakitkan.

“Tidak … tidak… semua anakku pintar, tidak ada kecualinya” gumam ibuku dalam hati sambil ngeloyor pergi meninggalkan Ibu Tini yang bengong.

Sesampainya di rumah, kekecewaan ibuku rupanya belum hilang. Bahkan kebahagiaan karena Gilang dapat prestasi terbaik, tertutupi oleh emosi akibat anaknya Acep dibilang bodoh.

“Cep, Mamah tidak terima kamu dibilang bodoh. Mamah yakin kamu itu pintar!” ujar ibuku dengan nada emosi.
“Masalah kamu dapat nilai lima, itu karena gurunya saja tidak bisa ngajar…” katanya lagi sambil tetap dengan nada sewot.

“Sudahlah Mah… nggak usah dipikirin, emang itu kenyataan kok” jawabku santai.

Saat itu, aku tidak tersinggung dibilang bodoh karena statusku sudah mahasiswa tingkat satu di kota Bogor. Itu artinya aku nggak bodoh-bodoh amat.

Setelah aku tanya pada ibuku kenapa dia emosi, ternyata ibuku kecewa sama Guru yang kalau muridnya dapat nilai jelek, maka semua kesalahan ditimpakan pada kebodohan murid tersebut. Padahal inginnya ibuku, dia harus introspeksi diri, dimana kesalahannya sehingga murid itu dapat nilai buruk.

Pelajaran kali ini:
“Jangan pernah menimpakan kesalahan pada orang lain” serta “Jangan hancurkan kebahagiaan orang lain dengan komentar yang tidak perlu”.

**** TAMAT****

Catatan: Tulisan ini sebagai kenangan bukan sebagai pembelaan, karena aku masih seperti yang dulu he he…

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


Parse error: syntax error, unexpected '&', expecting ']' in /home/kmmiiorg/public_html/wp-content/themes/atahualpa/footer.php on line 4